Mengatasi Ketidakstabilan Emosi Setelah SCI

Mengatasi Ketidakstabilan Emosi Setelah SCI

November 11, 2016
1,179 Views

Mengatasi ketidakstabilan emosi setelah SCI – Ada dua akibat dari cedera sumsum tulang belakang yaitu fisik dan non fisik. Diantaranya fisik mempengaruhi kelumpuhan otot, mati rasa, kehilangan kontrol buang air besar dan buang air kecil, sedangkan non fisik mempengaruhi gangguan emosi. Pada artikel ini secara khusus akan kami bahas persoalan-persoalan non fisik yang sering terjadi pada penyandang cedera.

1. Mengapa para penyandang cedera sering mengalami gangguan emosi?

Ada beberapa alasan yang menyebabkan penyandang cedera sering mengalami gangguan emosi antara lain:

  • Mengharapkan untuk sembuh setelah menjalani proses operasi dan proses perawatan.
  • Kurangnya pemahaman atau pengetahuan penyandang cedera tentang kondisi tubuhnya pasca cedera secara benar.
  • Pada beberapa kasus dimana penyandang cedera melakukan pengobatan alternatif yang iming-imingi bahwa mereka akan sembuh seperti sediakala, namun pada kenyataan-nya tidak. 😆
  • Pada beberapa kasus yang ditemukan di lapangan, ketika para penyandang cedera mencoba untuk hidup bermasyarakat dengan tetangga atau saudara. Tetapi mereka seringkali mendapat penolakan seperti; larangan untuk berkunjung, dicemooh, diberi uang receh dan makanan.

2. Apa saja jenis gangguan emosi yang sering dialami oleh penyandang cedera?

Beberapa emosi yang umumnya terjadi:

  • Penyangkalan diri
    Penyandang cedera mungkin akan menyangkal tentang apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri (depresi). Puncaknya mereka menjadi putus asa saat tahu bahwa mereka tidak bisa kembali seperti sedia kala, contohnya; mereka tidak mau berbicara dengan orang lain atau menutup diri.
  • Marah
    Penyandang cedera umumnya marah terhadap diri sendiri dan menganggap cederanya merupakan sebuah ketidakadilan. Kemarahan ini mengakibatkan mereka merasa tidak mampu untuk bekerja, minder, mengasihani diri sendiri, ketidakmampuan menjaga keluarga (bagi penyandang cedera yang sudah berkeluarga) dan cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang tidak lumpuh. Pada akhirnya luapan kemarahan bisa saja menyalahkan situasi atau keadaan sehingga dilampiaskan kepada keluarga dan orang lain.
  • Gelisah
    Penyandang cedera kerap kali galau mengenai bagaimana kondisi mereka akan mempengaruhi aktivitas mereka sehari-hari, takut tidak diterima oleh keluarga dan orang lain, seringkali pertanyaan mengapa dan mengapa selalu berkecamuk khususnya ketika dihadapkan dengan masa depan.
  • Terpuruk
    Penyandang cedera mulai berpikir dan melakukan perbandingan apa yang bisa dilakukan sebelum dan sesudah cedera; adanya keinginan yang tidak mempu diwujudkan karena keterbatasan fisik setelah mengalami cedera.

3. Bagaimana menolong penyandang cedera terbebas dari persoalan gangguan emosi dan kembali menjadi mandiri sebagai manusia normal lagi?

Tanggung jawab untuk membantu penyandang cedera agar bisa terbebas dari persoalan gangguan emosi tidak hanya menjadi tanggung jawab si penyandang cedera sendiri, tapi juga merupakan tanggung jawab keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Berikut ini adalah beberapa peran yang harus dilakukan oleh masing-masing kelompok:

  • Peran yang harus dilakukan penyandang cedera:
    – Bersedia menerima kenyataan baru dalam kehidupannya.
    – Mulai belajar tentang cedera sumsum tulang belakang (SCI) secara baik dan benar.
    – Berani dan bersedia berbicara kepada orang lain mengenai perasaan yang dia alami baik dalam kondisi senang maupun sedih.
    – Tetap aktif melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan fisik maupun mental.
    – Percaya diri untuk tetap menjalani kehidupan meskipun mengalami cedera sumsum tulang belakang.
    – Berani mencoba dan melakukan sesuatu yang baru.
  • Peran yang harus dilakukan keluarga:
    – Berkata jujur tentang kondisi penyandang cedera.
    – Mulai belajar tentang cedera sumsum tulang belakang (SCI) secara baik dan benar.
    – Tidak melakukan larangan ketika penyandang cedera mulai berani melakukan aktivitas apapun.
    – Menerima kenyataan bahwa keluarganya ada yang mengalami cedera dan kehidupannya sedikit berubah.
    – Memberikan bantuan sesuai kebutuhan si penyandang cedera.
    – Berkomunikasi dengan penyandang cedera dengan baik dan sebagaimana biasanya.
  • Peran yang harus dilakukan masyarakat:
    – Tetap bersikap wajar / sama seperti sebelum mereka mengalami cedera.
    – Bersedia menjadi teman bicara bagi penyandang cedera.
    – Tidak melakukan larangan apapun ketika penyandang cedera berani melakuka aktivitas apapun.
    – Memberikan bantuan ketika penyandang cedera membutuhkan bantuan saja.

Mungkin admin hanya bisa tulis 3 pertanyaan saja diatas beserta jawabannya, karena 3 pertanyaan itu yang sering di tanyakan. Jika kamu masih ada pertanyaan yang bersangkutan dengan artikel ini (Mengatasi Ketidakstabilan Emosi Pada Penyandang SCI), silahkan tulis saja di kolom komentar yang berada di bawah ini. Please share dan like jika artikel ini bermanfaat bagi kamu, jangan lupa subscribe juga yaa. Terima kasih 🙂

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.